Nama
saya Danang Yulianto, saya biasa dipanggil Danang saja. Saat ini saya menjadi
mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Indraprasta PGRI. Saya anak ketiga
dari tiga bersaudara dan saya juga satu-satunya anak lelaki di keluarga. Ayah
saya sudah tiada sejak saya masih duduk di bangku smp. Beliau meninggal di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tepat sebulan sebelum saya berulang tahun. Ayah
saya meninggal karena mempunyai penyakit paru-paru, diabetes, dan jantung yang
sulit untuk diobati. Pada saat itu saya sedang melaksanakan ujian semester satu
dan pada jam 01.00 malamnya saya diberi kabar bahwa ayah saya sudah tiada, saya
sangat sedih mendengar hal itu. Padahal bagi saya, sosok seorang ayah adalah
segala-galanya. Oleh karena itu, semenjak kepergian ayah saya, saya berjanji
akan selalu membahagiakan Ibu saya. Karena, Ibu adalah segalanya bagi saya.
Saya tidak akan bisa seperti ini tanpa ayah dan ibu saya.
Setiap
hari saya hampir selalu sendirian dirumah. Orang tua dan kakak-kakak saya
bekerja sampai larut malam. Saya dibiasakan mandiri oleh orang tua saya seperti
mencuci baju, menggosok, memasak, dan lain-lain. Saya senang hidup mandiri
seperti itu walaupun saya belum bisa mencari uang dengan kerja saya sendiri,
tetapi setidaknya saya mengurangi sedikit beban orang tua saya. Biasanya jika
saya sedang sendirian saya lebih suka online, mendengarkan musik, menonton tv,
atau ke rumah sahabat-sahabat saya.
Untuk
hobby, saya lebih suka menggambar atau mengedit-edit foto. Saya suka iseng
mengedit foto sendiri ataupun teman-teman saya dan kadang saya transfer ke hape
mereka lewat bluetooth. Bagi saya ada kesenangan dan kepuasan tersendiri
terhadap apa yang saya buat. Saya juga suka menonton acara Stand Up Comedy yang
ditayangkan di MetroTV setiap rabu dan kamis. Saya suka acara itu karena cara
mereka berbeda dengan acara televisi
lain. mereka cerdas, lucu, dan keren. Terkadang mereka juga suka menyindir
tentang politik di Indonesia. Saya
juga menyukai acara metro lainnya seperti Mario Teguh dan Kick Andy.
Saat SMA
saya pernah ikut ekstrakulikuler basket, tetapi saya hanya ikut beberapa bulan
setelah itu saya tidak bergabung lagi dikarenakan kurangnya fasilitas dan
pelatih basket di sekolah. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut ekstrakulikuler
Nihon Go yaitu budaya jepang. Disana saya diberitahu apa saja budaya jepang,
anime dan manga (kartun jepang), huruf jepang dan lagu-lagu jepang. Saya sangat
senang dengan ekstrakulikuler itu.
Walaupun
SMA bukan masa-masa yang terbaik, tetapi disitu saya diajarkan untuk menjadi
seseorang yang dewasa. Dikelas saya diajarkan untuk berteman dengan siapa saja, saya tidak peduli
jika orang itu seperti apa keadaan ekonominya, rupanya dan segalanya. Karena
saya sering ngobrol dengan orang yang sifatnya berbeda-beda, tetapi dari situ
saya menjadi mengerti tentang karakteristik seseorang. Saya pernah ngobrol
dengan perempuan, dengan anak yang pintar, dengan anak musik/band, dengan yang
badung, sampai yang kurang pergaulan. Saya senang walaupun mereka semua berbeda
sifat, tetapi bias diajak kompak bersama satu kelas.
Disekolah
saya mungkin bukan yang paling hebat atau jenius, tetapi saya dikenal dengan
semua kelas. Wajar, angkatan saya hanya tiga kelas, terdiri dari IPA, IPS 1, dan
IPS 2. Saya sendiri berada di kelas IPS 2 yang katanya dinobatkan sebagai para siswa dengan IQ yang lumayan, IPS 1 terkenal dengan kekompakan dan
kedisiplinan, sedangkan IPA sudah pasti terisi dengan siswa-siswa yang pintar. Saya
sangat merindukan masa-masa SMA, kata orang masa-masa SMA adalah masa yang
paling menyenangkan, dan itu benar menurut saya.
Saat
menyenangkan adalah saat anak-anak IPS 2 yaitu kelas saya, kerumah saya. Saat
itu satu bulan menjelang UN. Dirumah saya kami membicarakan hal-hal tentang
strategi UN seperti bagaimana agar pengawas tidak memperhatikan dan memplototi
siswa saat mengerjakan soal, bagaimana caranya memberikan jawaban contekan
kepada teman (haha), dan lain sebagainya. Jujur saya, saya sangat merindukan
masa-masa itu. Rasanya baru kemarin saya mendaftar masuk SMA dan sekarang saya
sudah kuliah. Tidak terasa saya sudah lulus SMA.
Saat
SMP saya mendapatkan banyak sabahat, diantaranya bernama Imam, Adam, Yuslam, Putri,
Rebecca, Nurdian, dan Cici. Dulu kami sering sekali melakukan kegiatan seperti
lari pagi, jalan-jalan, nge-band, dan lain-lain. Tetapi sekarang kami semua
jarang berkumpul lagi semenjak lulus SMA, karena kami semua mempunyai kesibukan
masing-masin sampai agak susah untuk diajak berkumpul kembali. Tetapi setiap masing-masing
dari kami punya kelebihan seperti imam seorang bassist, Yuslam menjadi guru les
gitar, Nurdian sekarang menjadi pelatih Taekwondo, Adam dan Becca sangat
menghormati agamanya, Cici anak yang pintar dan sekarang kuliah di UI, dan saya
……… saya hanya bisa menjadi sahabat yang baik. Hehe. Saya berharap masih dapat
berkumpul atau jalan-jalan lagi seperti dulu J Kami
menamakan persahabatan kami dengan sebutan Butter Cookies.
Sekarang
karena mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing dan hanya bisa kontak
lewat sms, Facebook, Twitter, atau Whatsapp. Biasanya saat saya sedang
sendirian,saya hanya sekedar belajar, menonton TV, main game atau mendengarkan
musik. Saya jarang keluar rumah sendirian ke mall atau kemanapun, tidak akan
seru tanpa mereka. Mereka semua orang-orang berharga untuk saya. Padahal dulu
ketika masih SMA kami sering jalan-jalan ke Bioskop, timezone, ancol dan
lain-lain. saya sangat merindukan masa-masa itu. Saya berharap kedepannya nanti
kami semua sukses dan dapat berkumpul kembali.
Saya
sangat merindukan sosok ayah saya karena berkat Beliau saya dapat hidup sampai
saat ini. Saya sangat menyesal, karena selama beliau masih ada saya hanya bisa
merepotkannya. Saya terkadang suka menangis bila melihat seorang anak merengek
minta dibelikan mainan oleh ayahnya, mengingatkan saya betapa merepotkannya
saya diwaktu kecil. Saya ini tipe orang yang cengeng, mudah kesal, tetapi tidak
menyimpan dendam. Dulu sewaktu ayah saya masih sehat, apapun yang saya minta
pasti selalu dibelikan seberapapun harganya. Setiap apa yang orang punya pasti
saya selalu ingin walaupun saya tidak membutuhkan, dan ayah saya menuruti itu.
Barang yang paling berharga yang pernah dibelikan oleh ayah saya adalah Playstation
2. Saya sangat merawat barang itu sampai sekarang, masih bisa dimainkan
walaupun umurnya sudah 7 tahun. Sangat jarang ada barang seawet itu. Saya
dibelikan sewaktu awal masuk SMP.
Semenjak
saya dibelikan PS2 itu, setiap hari saya selalu memainkannya pagi, siang,
malam, tidak kenal belajar. Dan ternyata sewaktu pembagian nilai tengah
semester nilai saya tidak memuaskan dan sudah pasti ayah saya marah. Padahal
seumur hidup, ayah saya jarang sekali memarahi saya dan bahkan bisa dihitung
berapa kali dia marah. Maklum saja, saya anak yang selalu dimanja dan dinomor
satukan. Beberapa bulan kemudian ayah saya sakit dan waktu itu ayah saya masih
dirawat dirumah saja belum ke rumah sakit. Karena sakitnya tidak kunjung sembuh
akhirnya ayah saya dibawa oleh paman saya ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Selama
sebulan ayah saya dirawat disana dan kembali ke rumah.
Beberapa
hari kemudian pada malamnya ayah saya muntah darah. Saya dan kakak saya
langsung terbangun dari tidur. Ibu saya mencoba untuk mengobati ayah saya.
Esoknya saudara-saudara ayah saya menjenguk kerumah. Mereka meminta agar ayah
saya dibawa saja ke rumah sakit, tetapi ayah saya ‘bandel’, dia tidak mau dirawat
di rumah sakit. Akhirnya, setelah bujukan dari ibu saya, ayah saya pun mau ke
rumah sakit. Dia langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan masuk
ruang ICU.
Saat
itu saya 2 minggu menjelang ujian semester, karena masih ada waktu, setiap hari
saya menyempatkan diri menjenguk ayah saya walaupun tidak berhadapan langsung.
Ayah saya dirawat diruang ICU dan tidak sembarang orang boleh masuk, hanya
boleh melihat lewat kaca. Saya melihat ayah saya sambil menangis dan ayah saya
juga melihat saya dengan tatapan penuh senyum sambil berkata “bapak nggak
apa-apa dek.”. Pulangnya dari sana entah
mengapa saya berkata pelan dengan kakak saya “kak, kayaknya bapak udah susah
diobatin deh.” Lalu kakak saya menjawab “jangan ngomong begitu, berdoa aja buat
bapak.”.
Seminggu
sebelum ujian saya belum menjenguk ayah saya lagi. Setiap saya ingin kesana
saya pasti selalu disuruh untuk tetap di rumah dan pikirkan ujian. Pada hari
ketiga ujian, malamnya, jam 1 saya diberi kabar bahwa ayah saya koma dan
sekarang berada di ruang UGD. Saya dan kakak saya langsung naik taksi kesana.
Sesampainya di pintu masuk ruang UGD, saya melihat kakak pertama saya duduk
sambil menangis, dan saudara-saudara saya pun berkumpul sambil menangis.
Saya
pun lari menghampiri ayah saya. dan yang saya lihat, ayah saya sudah terbujur
kaku dengan badan yang pucat. Saya menangis sambil dipeluk oleh ibu saya. Betapa
menyesalnya saya, didetik-detik terakhir, saya malah tidak ada disampingnya. Saya
seperti tidak pernah memberikan hal terbaik untuk ayah saya., oleh karena
itulah saya ingin membahagiakan Ibu saya bagaimanapun caranya. Sekarang saya
tidak ingin merepotkan ibu saya lagi, saya tidak pernah meminta barang apapun
kepada ibu saya ataupun kakak-kakak saya. semenjak ayah saya tiada saya selalu
membeli barang dengan uang sendiri, walaupun saya kadang juga suka iri melihat
anak-anak yang dibelikan handphone atau motor oleh orangtuanya.
Saya
berharap dapat serius di perkuliahan agar kehidupan saya bisa lebih baik dari
ini. Mungkin ada alasan mengapa Tuhan menjemput ayah saya, mungkin Ia punya
rencana yang baik untuk saya dikemudian hari.